Tampilkan postingan dengan label orang tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang tua. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Maret 2011

Mengasuh anak vs mengelola anak

Menjadi orang tua adalah suatu profesi yang mulia. Namun sebagian besar dari kita tidak mengerti harus bagaimana mempersiapkannya. Ketika kita mempersiapkan pernikahan maka kita sibuk memikirkan acara pestanya. Kita sibuk memikirkan siapa yang akan diundang, gaun apa yang akan dikenakan pengantin wanita, makanan seperti apa yang akan dihidangkan, foto kenangan seperti apa yang akan dilakukan dan mungkin juga tempat tinggal seperti apa yang akan dihuni.

Banyak diantara pasangan muda yang menikah tidak mempersiapkan diri untuk mendidik anaknya. Mereka berpikir bahwa kalau menikah dan punya anak maka secara alami kita pasti bisa mendidiknya. Tidak perlu belajar. Tetapi setelah anaknya bermasalah barulah mereka sadar telah membuang waktu untuk belajar. Itupun masih untung jika masih sadar. Banyak yang tidak menyadarinya sampai tua.

Kebanyakan orang tua sekarang lebih mampu mengelola anaknya ketimbang mengasuh atau mendidiknya. Mengelola adalah kegiatan yang dilakukan dengan pikiran logis. Contohnya : menyelesaikan pekerjaan rumah, mengikutkan anak les musik/pelajaran/menggambar, mengingatkan anak untuk makan, mandi dan tidur. Intinya tentang bagaimana membantu mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan dan menjadi apapun yang mereka inginkan yang sesuai dengan keinginan kita. kita memperlakukan anak-anak seperti karyawan di kantor yang perlu dikontrol dan diawasi dengan seperangkat aturan.

Apakah dengan cara mengelola seperti itu sudah layak dan cukup disebut mengasuh dan mendidik ? Pengasuhan merupakan kegiatan yang kira lakukan dengan pikiran dan juga perasaan. Hal tersebut meliputi memberi pelukan yang cukup banyak, memberi pujian dan menyemangati kerita anak-anak tertekan, memberikan kehangatan untuk menentramkan mereka dan memberikan mereka waktu yang berkualitas. Selain itu tak kalah pentingnya adalah mengetahui siapa mereka dan membantunya menjadi seperti apa yang ada dalam dirinya. Bukan menjadikan mereka seperti apa yang kita inginkan.

Analogi yang paling buruk tentang pengasuhan anak adalah yang mengibaratkan anak seperti gumpalan tanah liat dan orang tua adalah pematungnya. Hal ini menggambarkan bahwa anak berada dalam pihak yang pasif dan tak berdaya sama sekali. Anak diposisikan tidak memberikan kontribusi dalam proses tumbuh kembangnya. Hal ini pada akhirnya gagal dan sangat merugikan perkembangan anak itu sendiri.

Analogi yang lebih baik adalah analogi bibit tanaman. Pohon kecil yang ditanam di taman semuanya mirip. Tapi ternyata mereka semua berbeda. Ada pohon pinus, pohon apel dan pohon mangga. Kita tidak membentuk mereka melainkan merawatnya sesuai dengan karakteristik yang telah ada.

kita perlu tahu pohon jenis apa. Setelah itu mempelajari apa yang mereka perlukan dan menyediakan apa yang diperlukan tersebut. Mungkin pupuk yang sesuai dan pasokan air yang memadai sesuai dengan semua sifatnya agar mencapai pertumbuhan optimal.

Dalam hal ini, mengelola, membentuk mengarahkan dan mengajari mendapatkan porsi. Mengasuh dan mendidik adalah selubung yang melingkupi semua hal tersebut. Mengasuh dan mendidik memerlukan kecakapan untuk menentukan kapan saat terbaik untuk mengelola, membentuk, mengarahkan dan mengajari anak sehingga dengan begitu si anak bisa menemukan dan memunculkan potensi dan karakteristik terbaik yang telah ada dalam dirinya.

Bagaimana dengan Anda ? Apakah selama ini Anda lebih banyak mengelola atau mengasuh ? Masih ada waktu untk mengubah diri dan mempelajari bahanyak hal untuk membantu anak kita mengembangkan potensi dirinya.

Segeralah ambil tindakan.

Selasa, 01 Maret 2011

Langkah Bijak Mendidik Anak

Berikut langkah bijak bagi orangtua dalam memberikan perlindungan sejalan dengan pertumbuhan dan usia anak, dari dr. Ava L. Siegler, Ph.D., ahli psikologi anak dalam buku The Essential Guide To The New Adolescence.

1. Lahir sampai 1,5 tahun

Bayi perlu keterlibatan total dari Anda.

Saya selalu menenangkan bayi saya kalau dia menangis. Tapi suami saya bilang, saya terlalu protektif dan bahwa saya harus membiarkannya agar lebih kuat dan tidak manja. Apakah dia benar ?

Seorang bayi masih tergantung pada bujukan dan hiburan Anda untuk merasa nyaman. Mencoba bersikap lebih keras terhadap bayi bisa menimbulkan hasil yang bertentangan dengan apa yang Anda inginkan, yaitu seorang bayi yang tergantung dan rewel daripada seorang bayi yang tenang yang makin lama makin bisa berbaur dengan lingkungannya. Mendengarkan dengan cermat sinyal bayi Anda dapat membantu Anda mengetahui tingkat keterlibatan yang diperlukan dari Anda. Jika dia hanya merengek, Anda mungkin bisa menggunakan suara Anda untuk menenangkannya. (Oh sayang, Bunda ada di sini, kok. Lagi cuci piring..)

Saat bayi Anda memulai latihan ketrampilan motoriknya (duduk, merangkan dan berjalan), Anda mungkin akan sulit menentukan batasan antara terlalu protektif dan tidak protektif. Bersama bayi, keamanan selalu merupakan prioritas utama, tetapi perlu diingat juga bahwa bayi perlu mengambil beberapa resiko untuk tumbuh dan berkembang. jika anak Anda berusia 7 bulan, berdiri dengan berpegangan pada jeruji boks, dia ingin memberitahu Anda bahwa dia sudah siap menerima tantangan fisik, walaupun dia masih perlu bantuan Anda untuk bisa duduk kembali.

2. Umur 1,5 sampai 3 tahun : Anak balita yang serba ingin tahu harus belajar berhati-hati

Putri saya, 2 tahun, enang main di bak pasir di taman. Tapi menurut tetangga saya, saya harus melarangnya karena tak tahu apa yang akan ditemukannya disana. Apakah kekhawatiran tetangga saya itu benar ?

Keselamatan merupakan masalah paling penting bagi orang tua yang mempunyai anak balita di bawah 3 tahun karena kelincahan geraknya. Di saat anak balita Anda memulai penjelajahannya, Anda harus memberikan pengawasan penuh dan hati-hati. Akan tetapi, terlalu banyak "jangan !" pada usia anak yang masih terlalu dini dapat menghambat rasa ingin tahu yang merupakan dorongan untuk belajar dan mempengaruhi motivasi normal yang mendorongnya untuk berprestasi.

Jadi, bagaimana caranya mendorong otonomi sambil memperhatikan keselamatan anak ? Salah satu solusi adalah menggunakan perkembangan kecerdasan anak Anda untuk mengajari dia tentang kehati-hatian yang wajar dan tepat. Daripada sekedar berteriak "Jangan!" pada waktu anak Anda meraih cangkir, sebaiknya dapat Anda jelaskan, bahwa kopinya panas, bisa membuat tanganmu sakit. Sesuatu yang panas, bisa membuat kamu sakit, seperti kompor panas, lilin yang menyala dan lampu terang.

jika Anda mencoba melindungi anak Anda dengan tak pernah semenit pun melepaskannya dari pengawasan Anda, berarti Anda terlalu protektif. Anda membuatnya terlalu bergantung kepada Anda untuk memproses informasi tentang keadaan sekelilingnya dan tidak mendorongnya untuk berpokir untuk dirinya sendiri melalui situasi-situasi baru. Anak-anak sama seperti kita, belajar lewat pengalaman.

cara lain dengan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, misalnya daripada melarangnya bermain di bak pasir, lebih baik membersihkan pasirnya dari kotoran-kotoran atau benda-benda berbahaya sebelum dia masuk ke dalam bak atau daripada berkata "Jangan!" setiap kali dia menarik kabel peralatan listrik, lebih baik amankan ruangan Anda sehingga anak Anda bebas menjelajahinya tanpa takut menghadapi masalah. Anak Anda akan matang lebih cepat jika Anda menyediakan beberapa peluang untuk kebebasan yang aman tetapi tetap di bawah pengawasan.

3. Umur 3 sampai 6 tahun : Anak pra sekolah harus belajar pelajaran hidup yang penting.

Saya khawatir, anak saya, 4 tahun, terlalu ramah. Apakah bijaksana jika saya bersikap lebih keras  terhadapnya ?

Pada usia ini, kepribadian anak Anda mulai terbentuk dan bisa dijadikan ukuran untuk menentukan jenis keterlibatan yang diperlukannya dari Anda. Dalam masalah fisik, misalnya, anak yang berani dan tak bisa diam mungkin perlu bantuan Anda untuk belajar bagaimana cara mengendalikan dorongan-dorongannya. (Lompatan itu terlalu tinggi. Dan ayah kira, kamu bisa jatuh di semen itu. Jadi, cobalah lompat di rumput saja). Anak penakut memerlukan dorongan Anda untuk percaya
 pada kemampuan fisiknya. (Lompatan itu terlalu tinggi. Tapi ayah kira akan aman karena kamu akan mendarat di pasir. Kalau kamu ingin mencoba, ayah akan menyambut kamu kalau jatuh).

Dalam masalah sosial, anak pemalu mungkin perlu dorongan untuk bicara. (Pak Toni sangat senang waktu kamu menyapanya. Dia benar-benar senang sama kamu). Anak yang terlalu ramah mungkin perlu diajari untuk membatasi keramahannya. (Kamu boleh saja mengucapkan selamat pagi, Tapi tak boleh duduk di pangkuan orang yang baru dikenal).

Ini merupakan usia di mana ketrampilan sosial anak Anda perlu dipoles. Dia masih memerlukan Anda untuk mengatur jadwal bermain dan aktivitas-aktivitasnya. Tapi jangan mencampuri dan mengendalikan permainan mereka. Setiap kali Anda melangkah mundur, Anda membantu anak Anda mengatur dirinya sendiri.

Karena anak Anda sudah cukup besar untuk menghabiskan waktunya bersama orang dewasa lainnya (tetangga, guru, penjaga toko, dan sebagainya), tapi masih terlalu mudah untuk dibohongi, ini merupakan waktu yang paling baik untuk menanamkan aturan-aturan dasar tentang keselamatan dirinya. (Jangan bicara pada orang asing, walau mereka minta bantuan sekalipun. Jangan menerima makanan atau minuman dari siapapun yang tidak kamu kenal. Jangan berdiri di depat pintu mobil orang asing. Jangan pergi kemana-mana dengan seseorang tanpa izin ayah, walaupun dia bilang, dia akan membawa kamu bertemu dengan ayah).

Cara terbaik untuk membantu anak Anda menyerap informasi ini adalah lewat permainan peran. Tanyakan dia, misalnya ada seorang anak remaja yang tidak kamu kenal minta tolong dicarikan anak kucingnya yang hilang ? Apa yang akan kamu lakukan  Beritahu langsung anak Anda apa yang harus dilakukannya jika menghadapi situasi ini. Cepat lari dan cari orang dewasa yang kamu kenal atau polisi.

4. Umur 6 sampai 9 tahun : Anak usia sekolah harus berpikir untuk diri mereka sendiri.

Waktu membantu anak kami mengerjakan pekerjaan rumah, saya jadi bertanya-tanya, apakah bantuan itu lebih banyak baiknya atau lebih banyak buruknya ?

Tahun-tahun antara umur 6 dan 9 merupakan masa yang penting untuk pencapaian ketrampilan intelektual dan sosial. Saat anak masuk sekolah dasar, Anda pasti akan mendorongnya agar berusaha keras belajar dan berprestasi. Tapi ingat, anak Andalah yang kini bertanggung jawab untuk belajar, bukan Anda.

Pekerjaan rumah khususnya, mungkin bisa menjadi penyebab perang antara anak yang suka menunda dengan orang tua yang pencemas. Orang tua yang terlalu ambisius untuk anaknya biasanya menjadi cemas dengan kinerja anaknya sempai akhirnya mereka mengerjakan tugas-tugas anaknya. Hal ini tidak hanya membuat anak merasa usahanya tidak ada harganya, tetapi juga membuat gurunya jadi tidak mengetahui perkembangan anak yang sebenarnya. Yang mana yang belum dimengerti dan mana yang sudah.

Ini juga merupakan waktu bagi Anda untuk tidak lagi mengatur waktu main atau main dengan siapa. dorong anak Anda untuk membuat rencananya sendiri. (Ada film baru di mall. Kenapa kamu tidak ajak Geri untuk menonton bersama kita ? Sesudah itu, kita bisa makan pizza bersama).

5. Umur 9 sampai 12 tahun : Anak pra remaja menantang perlindungan Anda.

Anak saya, umur 10, senang masuk ruang internet dan saya khawatir, dia melihat sesuatu yang tak pantas. Apakah saya harus membatasinya atau melarangnya ?

Menurut Dr. Ava, saat anak mendekati masa remaja, adalah normal jika mereka menolak usaha Anda untuk melindungi mereka. Mereka bukannya mau melawan, tapi latihan mengatur diri sendiri tanpa campur tangan Anda. Suatu perkembangan yang penting sebagai langkah menuju otonomi masa dewasa. Anda tetap harus memberikan perhatian pada masalah internet yang terus membayang-bayangi kehidupan anak pra remaja karena terlalu banyak stimulasi tanpa pembatasan atau larangan, sehingga mereka bisa dengan bebas melihat apa yang mereka inginkan.

Memang, Anda bisa membeli perangkat lunak untuk menyaring informasi-informasi elektronik yang berbahaya, tetapi cara terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengusahakan agar anak pra remaja Anda menggunakan internet untuk sesuatu yang berguna atau paling tidak untuk sesuatu yang pantas dan wajar.

Pada masa ini, melebihi masa sebelumnya, Anda harus mengemukakan harapan-harapan Anda pada anak-anak Anda, menegaskan kembali nilai-nilai dan standar-standar Anda. Tetapi tetap penting untuk membiarkan anak pra remaja Anda mengambil peluang dan kemungkinan berbuat salah. Banyaknya jumlah perlindungan yang sering diikuti dengan sedikitnya jumlah kebebasan pada usia ini bisa menimbulkan tindakan yang disebut lie or defy (berbohong atau menentang).

Pembatasan yang tidak masuk akal bisa membuat anak Anda menghindar atau tak mau mengakui perbuatannya secara terbuka. Hal ini bisa menciptakan suasana saling tidak percaya dan konflik dalam keluarga. Yang lebih buruk lagi adalah, terlalu memberikan perlindungan pada usia ini bisa mengakibatkan anak pra remaja yang begitu tergantung pada keluarganya, sampai tidak bisa berpisah dari keluarganya. Terlebih lagi, tidak bisa menciptakan hubungan baru dengan anak-anak seusianya atau membangun karakter yang merupakan perkembangan wajib yang penting pada masa remaja.

Jadi menurut Anda, apakah Anda orang tua yang terlalu protektif ?
Hanya Anda yang tahu jawabannya.

Semoga bermanfaat.

Senin, 28 Februari 2011

Apakah anda orang tua yang terlalu protektif ?

Antara menjaga keselamtan anak dan terlalu protektif terdapat batas yang tipis. Orang tua yang berhasil adalah yang tahu kapan harus melangkah mundur dan membiarkan anak terbang begitu ia siap. Di zaman seperti sekarang ini, rasanya semakin sulit menjaga anak agar selalu sehat dan selamat. Masih bayi dan berada di rumah sendiri pun sudah dikelilingi benda berbahaya, dari benda-benda tajam, cat yang mengandung timah, sampai virus-virus misterius penyebab penyakit berbahaya.

Sejalan dengan pertumbuhan anak Anda, rasa cemas Anda juga ikut tumbuh bersamanya. Untuk tumbuh menjadi anak yang sehat sejahtera, anak Anda memerlukan perhatian dan perlindungan. Perhatian dan perlindungan yang berlebihan membuat anak sulit mengembangkan rasa percaya diri dan ketangguhan yang diperlukan di kemudian hari. Karena itu, sebagai orang tua, anda dituntut untuk menemukan keseimbangan antara tidak melindungi, dimana anak-anak Anda mengalami suatu yang sebenarnya mereka belum siap hadapi. dan terlalu melindungi, menghilangkan kesempatan penting untuk perkembangan dan meruntuhkan kemampuan mereka untuk bernegosiasi dengan tantangan-tantangan kehidupan

Perlu diingat, orang tua yang sukses adalah yang mendidik anak yang bisa mengurus dirinya sendiri. Untuk itu, Anda harus mengizinkan anak Anda menguji sayapnya. Anda tidak mendorongnya keluar dari sarang sebelum dia dipersiapkan untuk terbang. Anda juga tidak menahannya ketika dia sudah siap.

Sukses Mendidik Anak

Kami percaya setiap orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi orang yang baik, punya kepandaian, punya moral yang baik, percaya diri, rajin, disiplin, punya motivasi dan semangat untuk maju, memiliki pengendalian diri yang baikm jujur, sabar, punya toleransi, suka menolong sesama dan saya yakin daftar ini masih panjaaaannnggg sekali. Inilai impian setiap orang tua.
Sayangnya, banyak bukti menunjukkan impian orang tua tersebut kebanyakan tinggal jadi impian saja, bahkan banyak anak yang tumbuh dengan berbagai permasalahan daripada yang tumbuh hampir tanpa hambatan berarti.

Kasus narkoba, suka berkelahi, tidak ada motivasi, tidak bisa bergaul, suka marah, suka konfrontasi dengan orang lain, kurang bisa menghargai orang lain, tidak percaya diri dan lain-lain adalah masalah orang dewasa umumnya. jika ditelusuri, seringkali sumber perilaku negatif ini adalah saat mereka dididik waktu masih kecil, karena pikiran orang dewasa hampir 90% terbentuk saat masih anak-anak.

Beberapa hal yang membuat banyak orang tua gagal dalam melaksanakan tugasnya sebagai orang tua :
  1. Orang tua mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk sikap, cara berpikir dan perilaku seorang anak. Orang tua baru (saat anak pertama lahir), tidak punya pengalaman menjadi orang tua. Mereka hanya punya pengalaman sebagai anak sehingga mereka cenderung mendidik dan mengasuh anaknya seperti mereka dulu dibesarkan orang tuanya. Jika dulu orang tuanya mendidiknya bagus, ya syukurlah, tetapi jika orang tuanya dulu mendidiknya dengan negatif, maka cenderung orang tua baru ini juga sedikit banyak ikut mendidik anaknya dengan cara negatif pula. Dan celakanya mereka tidak sadar akan hal ini.
  2. Orangtua tidak tahu apa yang mereka tidak tahu. Mereka berpikir mudahnya saja, "Yang penting aku beri anakku makan, masukkan dia ke sekolah yang bagus, dan kalau anak melakukan kesalahan maka perlu ditegur atau dihukum, selesai !". Mereka tidak mengerti apa yang mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu tentang citra diri, konsep diri, apa makna disiplin sebenarnya, tidak mengerti apa itu cinta tanpa syarat, apa kebutuhan emosi anak sebenarnya, prinsip-prinsip hidup yang perlu ditanamkan ke anak dan masih banyak lagi.
  3. Tidak ada sekolah yang mengajarkan bagaimana Menjadi Orang Tua yang Efektif dan Professional. Umumnya orang tua belajar dari kata teman atau kata orang tua lain yang belum tentu sesuai untuk diterapkan pada setiap anak.

Orang tua tidaklah salah 100% bila seorang anak bermasalah. Anak memiliki "sifat bawaan", tetapi pada usia awal pertumbuhan anak, orang tua benar-benar memiliki peranan besar dalam membentuk diri seorang anak terutama umur 9 tahun ke bawah.

Ada kebutuhan emosi yang diperlukan anak agar dia dapat tumbuh mencapai potensi dirinya yang terbaik, dan itu didapat dari orang tua. Tidak ada yanglebih membahagiakan dan membanggakan orang tua selain melihat anaknya menajdi seseorang yang berguna di masyarakat, sukses dan bahagia dalam kehidupannya.

Pesan saya : "Jadilah Orang tua yang terbaik dan Professional"

Terbaik disini bukan selalu menuruti apa maunya anak, Terbaik disini berarti melakukan hal yang terbaik yang bisa dilakukan orang tua demi kebaikan dan masa depan anak. Professional artinya orang tua perlu mempunyai kecakapan berfikir sehingga bisa mengajarkannya pada anak.
Itulah yang disebut Sukses Mendidik Anak.